jump to navigation

Karena Nama-Nya Juni 27, 2007

Posted by onkp in Kesaksian.
trackback

Reona Peterson dan Evey Muggleton adalah dua orang gadis yang ingin menaati Tuhan, bahkan jika hal itu menuntut mereka menyerahkan nyawa. Reona adalah guru sekolah dari Selandia Baru dan Evey adalah bidan dari Inggris. Mereka saling mengenal di pusat penginjilan kami di Swiss. Di sana mereka bergabung dengan istri saya, Darlene, dan empat orang lainnya yang amat tertarik untuk berdoa bagi negara Albania.

Anda tahu, Albania dianggap sebagai salah satu negara yang paling sukar untuk ditembus oleh Injil. Inilah satu-satunya negara yang telah menyatakan bahwa negara itu sungguh-sungguh ateis — termasuk semua rakyatnya. Pemerintah Albania mengklaim telah mengusir semua agama dari negara itu. Penguasa menutup setiap gereja dan masjid, dan membunuh mereka yang tidak menyangkal kepercayaannya kepada Tuhan. Beberapa orang Kristen menemui ajalnya pada tahun 1969 dengan disegel hidup-hidup di dalam tong-tong dan diceburkan ke Laut Adriatik.

Setelah berbulan-bulan berdoa bagi negara ini, Reona dan Evey percaya bahwa Allah memimpin mereka untuk pergi sendiri ke sana. Mereka bergabung dengan satu-satunya kelompok wisata yang tersedia, yang kebanyakan berisi anak muda penganut Marxisme dari Eropa Barat. Mereka menyembunyikan Injil Yohanes dalam bahasa Albania di bawah pakaian mereka agar bisa dibawa masuk ke negara itu. Setelah mereka berada di negara itu, mereka berdoa dengan hati-hati sebelum memberikan buku itu secara rahasia kepada setiap orang, atau menempatkan beberapa eksemplar di tempat-tempat tertentu.

Namun akhirnya, para gadis itu tertangkap dan dibawa secara terpisah di hadapan sekelompok pemeriksa. Para pemeriksa ini sudah amat terlatih untuk menakut-nakuti tawanan mereka, tetapi kedua gadis ini diliputi damai dan kasih Allah ketika orang-orang komunis itu mengancam akan memenjarakan mereka dan akhirnya, menghukum tembak. Mereka tidak gentar di hadapan para pemeriksa itu. Sebaliknya, para gadis itu dengan penuh keberanian bersaksi kepada penangkapnya tentang Allah.

Pihak berwenang mengatakan, mereka akan dihukum mati pada pukul sembilan keesokan paginya karena telah melawan Negara Albania, dan mereka pun digiring ke kamar mereka. Reona belakangan berkata bahwa dia kagum dengan karunia Allah dalam mempersiapkan para martir — hatinya dipenuhi damai dan sukacita saat dia berbaring pada malam yang disangkanya malam terakhir di bumi itu.

Keesokan harinya, entah mengapa mereka dibebaskan, dibuang ke perbatasan tanpa tiket kembali, uang, atau paspor. Melalui sederetan peristiwa yang mengagumkan, mereka dapat kembali ke Swiss. Kisah selengkapnya diceritakan dalam buku Reona, “Tomorrow You Die” (Besok Kamu Mati).

Kisahnya berakhir bahagia, tetapi Reona dan Evey dipersiapkan untuk memberikan hak mereka yang paling berharga kepada Yesus, sebagai ganti kehormatan untuk memancarkan sinar-Nya di sebuah negara yang benar-benar gelap.

Sumber : Loren Cunningham dan Janice Rogers,  Yayasan Andi Yogyakarta 2000, Menang dengan Cara Allah, Hlm 113-115

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: