jump to navigation

Dua Putra Nias Raih Gelar Doktor Theologi di STII Yogyakarta Juli 9, 2007

Posted by onkp in Kristiani.
trackback

Medan (SIB), Senin 9 Juli 2007
Dua orang putra Nias masing-masing Pdt Dr Etiknius Harefa MTH dan Pdt Dr Sozisochi Lase MA meraih Gelar Doktor Theologia dari STII Yogyakarta Indonesia setelah berhasil mempresentasekan desertasinya dan diwisuda, 25 Juni lalu di Yogyakarta.
Pdt Dr Etiknius Harefa MTh yang memilih judul desertasi, Mewujudkan Jemaat Misioner di BNKP Dipandang dari Sudut Peran kepemimpinan Satua Niha Keriso (Penatua Gereja) dengan memfokuskan penelitian terhadap peran kepemimpinan Niha Keriso (penatua gereja) di BNKP yang dinilai belum dapat berfungsi secara efektif dan maksimal.
Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa ada indikasi lemahnya usaha gereja dalam membina potensi sumber daya para Satua Niha Keriso yang pada masa mendatang perlu disikapi dengan sungguh-sungguh lewat program pembinaan terpadu.
Langkah yang perlu segera diambil adalah mengambil tindakan di masing-masing jemaat dan juga distrik untuk melaksanakan program pendidikan dan latihan teologia warga jemaat (PLTJ).
Sementara itu Pdt Dr Sozisochi Lase yang memilih judul desertase, “Peranan Penggembalaan dalam Membina Pertumbuhan Imam Warga Jemaat,” lebih menyoroti kehidupan manusia saat ini yang sedang dihadapkan pada masalah globalisasi dan era informasi canggih yang telah mengakibatkan berbagai efek positif dan negatif.
Sementara sebagian orang belum dapat menerima dan memasuki era canggih tersebut sehingga efek negatif yang lebih dominan.
Untuk mengendalikan dan menstabilisasikan efek negatif itu dibutuhkan peran penggembalaan sehingga pertumbuhan iman orang Kristen tidak kendor dan tidak hanyut oleh arus globalisasi dan informasi canggih.
Sozisochi yang merupakan mantan Ketua STAKN Tarutung saat ini bertugas sebagai Pengawas Pendidikan Agama Kristen pada Kantor Departemen Agama Kota Medan dan juga aktif sebagai pendeta fungsional di Gereja BNKP Medan. (M15/e)

Komentar»

1. Pdt. Haeli Hia, MA - Juli 10, 2007

Sebagai Alumni STII dan Orang Nias, saya sampaikan selamat kepada Bapak Pdt. Dr. Etiknius Harefa, M.Th & Bpk. Pdt. Dr. Sozisökhi Lase, MA.
Kiranya dengan prestasi ini, Visi 1.1.1 Indonesia Bagi Kristus dapat di wujudkan dan hasil dari disertasi yang fungsional ini, gereja kita BNKP mendapat masukan untuk memperbaiki diri semakin baik.
Terpujilah Tuhan Yesus
Juruselamat dunia !

2. PUTRA GUNUNG SITOLI - November 28, 2007

Gelar Doktor Teologia yang diraih oleh kedua putra Nias Etiknius dan Sozisochi Lase,kita bangga, asalkan kedua doktor ini dapat menjadi teladan di Masyarakat,khusus Sozisosochi Lase,perlu koreksi segala perbuatannya selama bertugas segai PNS sudahkah ia layakmenyandang gelar Doktor? Fakta masih berbicara, surat kabar ttg berita orupsi dll masih ada dimana-mana. Kemudian perlu jujur Doktor kedua putra Nias ini bukan Doktor Teologia,tetapi Doktor Ministry (D.Min),supaya tidak dibohongi gereja dan masyarakat luas.D.Ministri adalah utuk pelayanan dan bkan utk konsumsi Akademik.INI PERLU DILURUSKAN,EHARUSNYA TIDAK LAYAK JADI DOSEN DIpERGURUAN TINGGI TEOLOGIA,TAPI MEREKA DIPERUNTUKKAN MENJADI PENGINJIL,PELAYANAN DIGEREJA,TAPI TERNYATA MEREKA LEBIH MERASA BANGGA JADI TENAGA PENGAR WALAPUN UU,pERGURUAN TINGGI TD MENGAKUI HAL ITU,MAKA GELAR ITU PERLU DILURUSKAN SUPAYA JANGAN BERDOSA,OK

3. desman waruwu - Desember 3, 2007

gelar DR. menjelaskan bahwa yang tercantum dua nama yakni Etiknus dan Bung Sozisõkhi lase. benar apa yang telah di sampaikan oleh beberapa kawan-kawan tentang kepemimpinan bahwasanya tidak semuanya………..

4. desman waruwu - Desember 3, 2007

woyo/………….woyo khõmi ine tebai mi bangu nias da’a

5. samudra - Desember 10, 2007

saya adalah seorang penginjil yang melayani di mahasiswa di medan.
pendidikan sangatlah penting dalam era sekarang ini. untuk itu harapan saya anak nias dapat lebih banyak lagi yang bisa kuliah sampai pasca sarjana

6. Manati Zega - Januari 8, 2008

Salam,

Saya senang atas diwisudanya kedua saudara kita tersebut. Ok lah walau mereka punya “cacat” masa lalu, bukankah kita senang jika mereka dapat menyelesaikan program tersebut? Saya tahu pasti bahwa STII Jogjakarta tidak sembarang juga memberikan gelar doktor [S3] tanpa memenuhi kualifikasi akademis.

Saudara-saudara, marilah melihat segala sesuatu dari sisi positif dan memberikan masukan berarti bagi teman-teman kita sesama ONO NIHA. Saya pikir itu jauh lebih baik daripada hanya sekedar mencela.

Program D.Min, bukanlah doktor dalam bidang teologi, tapi lebih dalam bidang pelayanan. Tapi, kalau terpanggil untuk mengajar tidak masalah juga asal terus belajar dan belajar.

Terimakasih, Ya’ahowu fefu.

Manati I Zega, MA, M.Th
Rohaniwan, Dosen dan Jurnalis, tinggal di Surakarta.

7. Rena Lase - Februari 14, 2008

Mmm, aneh juga ya, berdebat soal gelar. Asal saudara/i-ku tahu bahwa Indonesia beberapa tahun yang lalu menjadi raja soal penjualan gelar. Nah, mau gelarnya atau…mau ilmunya. Ah, ini kan Indonesia. Mana ada orang yang menuliskan namanya “tanpa” gelar:)
Tambahan lagi nih ya, saya itu tinggal di Jogja. Dan saya tahu mana kampus yang emmm, dan mana yang ahaaaaaa. Ndak percaya, datang aja ke Jogja, puluhan kampus “merajalela” dan tidak sedikit yang “tanda kutip”. Jadi, so jangan sampai deh mempermasalahkan gelarnya mereka, toh kita ndak tahu bahwa mereka “bisa” membuktikannya. Yang penting, gelar apa ilmunya? Aduh Indonesia..?! Nias…?

8. A.S.S - Juli 20, 2008

Salam sejahterah.
Omong2 soal STII….saya nunmpang nanya, punyakah STII webside/blog sendiri??. terimakasih atasn bantuannya.
Tuhan memberkati.

9. Menjangan - November 4, 2008

“Salut dan Bangga, namun tidak berharap banyak”
ini saya jadikan untik mereka pikirkan mengapa?

Komentar saya adalah: kegagalan seorang doktor theologia adalah ketidak selarasan gelar akademik dengan sikap akademik, tidak selaras pula dengan kemampuan akademis dalam arti kualitas. Ribuan doktor teologia asli Indonesia, tetapi tidak satupun yang mampu mempunyai pemahaman theologia dalam konsep, konteks dan perfektif theologia yang cocok dengan Indonesia. Karena buku dan Theologia yang “mereka” pelajari adalah literatur “asing” dalam arti bahasa, “asing juga dalam arti “ketidak tahuan mereka atas apa yang mereka pelajari dalam hubungannya dengan konteks Indonesia. Inilah tantangannya. Saya yakin kedua orang ini tertantang untuk itu, sebagai sikap akademis.

Sebatas Salut, bangga dengan kedua Putra Nias ini patut saya sampaikan, oleh karena perjuangan mereka yang memang tidak mudah “jika diukur dengan standart seharusnya yang tepat” untuk ukuran Ilmu Theologia.

CONGRAGULATION

10. jenla lase - Januari 29, 2009

Syalom,Yaahowu,saya merasa sangat bangga dengan pernyataan ini bahwa anak Nias dapat diandalkan dan bukan yang terbelakang, namun saya sebagai mahasiswa di STTNI (Sekolah Tinggi Theologia Nazarene Indonesia) di jogja, juga melihat mustahil untuk bisa melanjutkan kuliah jika kita tidak memiliki dana yang cukup untuk membayar keperluan kuliah kita, kita akan kewalahan karena harus pontang panting mencari donatur yang mau menolong seperti saya yang saat ini masih mencxari orang yang mau mengulurkan tangannya untuk membantu saya, karena percuma saya mendapatkan IP 3,42 jikalau sampai sekarang tunggakan biaya kuliah semakin besar. Ini mungkin suatu cobaan buat sdaya yang masih permulaan. Tapi saya sangat terpukul karena orang tua saya di Nias adalah orang tua yang tidak mampu. Jadi jikalau ada yang mau bersedia untuk membantu saya, saya sangat bersyukur sekali, jikalau dua anak Nias ini bisa meraih yang terbaik, saya yakin saya pasti bisa, tapi bukan atas kekuatan saya sendiri melainkan kekuatan Tuhan dan bantuan dari saudara sekalian. Saya menunggu info dari teman teman yang mengetahui tentang beasiswa ataupun donatur yang bisa menolong, saya mempunyai e-mail Jenla_lase@yahoo.com, terima kasih Tuhan Yesus Memberkati.

11. lieana Duha - Maret 24, 2009

selamat ya atas wisudanya smoga menjadi kesaksian yang luar biasa bagi semua orang dan terutama bagi orang-orang Nias. Tuhan Memberkati

12. Ji fo Yogya - Agustus 19, 2009

syalom, kita patut bersyukur atas beliau yang telah berhasil merail gelar Doctor. Selamat ya. Hanya satu pesan buat Beliau agar jangan hanya meraih gelar dengan hasil karya ilmiah yang sangat meyakinkan. namun banyak pengalaman bahwa kadand yang sudah meraih gelar sepert tu mereka lupa akan visi dan misi mereka membangun daerahnya sindiri bahkan kadang mereka menjadi perusak juga. saya menaruh percaya kedua beliau tunjukkan bagi Nias dan bagi mereka bahwa Alumnus STII Yogyakarta bukan sekedar mendapat gelar tetapi merupakan pengabdian yang sebesar-besarnya dalam pelayanan Tuhan. STII mempunyai visi yang luar biasa baik secara inteletual maupun dalam pratek di lapangan. Sekali jangan beberapa tahun kemudian kita dengar hal-hal yang tidak di inginkan. Selamat berjuang memulihkan dan memperbaiki segala sesuatu yang selama ini menjadi hambatan perkembangan iman jemaat khususnya jemaat BNKP. STII bukan sekedar teori tetapi di seimbangi dengan prakteknya.
Tuhan berkati. Amin

13. Ya'ahowu - Oktober 29, 2009

wah..saya pasti akan nyusul ….bakal ada orang ke tiga putra Nias yang memperoleh Doktor…… 🙂

tunggu saja, 3 tahun, 4 tahun, atau 5 tahun….xixixixixixi…

14. pdt edy suwito - Maret 10, 2011

sebentar lagi putra nias akan meraih gelar Doktor dari stii yogyakarta namanya Orwel swastika Gulo. puji Tuhan

15. putraananda - November 19, 2011

Gelar sudah sampai yang tertinggi hendaknya perilaku dan tabiat juga harus semakin menunjukkan kearah yang lebih baik. saya dengar anda (s.lase) adalah dosen di STT St. Paulus Medan dengan yayasan Gereja orthodoks yang semakin lama sya dengar beritanya adalah STT yang sarat dengan kebohongan publik.anda berikan gratis uang kuliah dengan alasan membantu yang lemah tapi sebenarnya kalian itu mengisap uang mahasiswa secara menerus dengan pelan pelan dan yang paling tragisnya pihak stt menyuruh mahasiswa yang kurang mampu menandatangani surat pernyataan bahwa mereka adalah anak yatim yg selanjutnya data itu kalian kirim ke negara lain (yunani) minta beasiswa dan beasiswa tersebut yg jumlahnya besar (karna EURO) tidak pernah anda berikan ke mahasiswa.kalian telah menjual martabat orang.

Doktor anda juga sepertinya tidak akan terlalu membawa dampak kemasyarakat nias karna ada byak trik trik kotor dalam mendapatkan gelar itu.seperti bagaimana yayasan anda menyuruh anda yang beasiswa darinya untuk memboikot wisuda karna dia (yayasan anda tersebut) tidak lulus. sudah lah mungkin ada banyak kesalahan tapi jika anda berbenah diri dan keluar dari tabiat tabiat itu niscaya anda akan menjadi contoh teladan yang baik

16. Abel S.A - Maret 22, 2012

YAAHOWU FEFU !

17. juli alma harefa - Oktober 9, 2014

“selamat buat kedua putra nias”

semoga saudara menjadi hamba Tuhan yg siap melayani dalam kebenaran Firman, dan siap membawa jiwa_jiwa yang hilang kepada terang yg ajaib.
jadi lah hamba yg berintegritas, melayani adalah hal yg utama.
,BUKAN DILAYANI”

Syaloom…,:)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: